Senin (9/8) saya melakukan pengecekan jaringan SeaEdunet di SD N Kesetnana. saya memang sengaja secepatnya melakukan pengecekan di sekolah ini, mengingat diantara 5 titik yang kami pasang, di sekolah ini yang paling kurang bagus cuacanya. Selain itu, di sekolah ini yang sempat mengalami perpindahan tempat parabola karena sinyal tidak pernah stabil dan cenderung menurun terus.
Tapi Alhamdulillah setelah saya lakukan pengecekan, ternyata sinyal masih stabil pada posisi 85% untuk Trans Tv dan 83% untuk Seamolec dengan BER 0%. Setelah memastikan sinyal dalam kondisi stabil, saya langsung melakukan pengecekan jaringan, dan Alhamdulillah jaringan juga bagus, siaran pun bisa ditangkap dengan baik, tak lupa sambil melakukan pengecekan saya memberikan pelajaran kepada Teknisi Lokal yang kebetulan masih baru, karena yang lama mengundurkan diri dengan alasan sudah diterima bekerja di sebuah PT. Meski bisa dipahami, tapi masih perlu banyak belajar lebih banyak, karena teknisi lokal ini memang kurang menguasai komputer. Saya hanya berpesan agar dia mempelajarinya melalui modul yang saya kasihkan pada SOP sambil dipraktekkan, nanti ketika ada permasalahan agar menghubungi saya.
Keesokan harinya, Selasa (10/8) saya diminta oleh Kepala SD Inpres Oenali untuk mengajari guru-guru belajar komputer terutama program Microsoft Excel, rata-rata guru di sekolah ini hanya mampu mengoperasikan Microsoft Word saja, sementara Dinas PPO sering meminta laporan sekolah dengan format menggunakan Microsoft Excel sehingga seringkali laporan yang harus dikirim ke Dinas direntalkan. Alhamdulillah proses pembelajaran bisa berjalan dengan baik, guru-guru bisa menangkap dan memahaminya secara cepat, meski belum sepenuhnya saya ajarkan. Selanjutnya hari Rabu-minggu (11-15/8) semua sekolah libur nasional bertepatan dengan awal puasa ramadlan, tapi tetap dimanfaatkan oleh pihak sekolah untuk melakukan persiapan lomba Agustusan.
Senin (16/8) saya melakukan pengecekan jaringan di SD N Ajaobtomas. Sekolah ini belum pernah sekalipun saya check sejak dipasang Multicast mengingat kondisi listrik yang tidak stabil alias sering mati sendiri, sehingga saya baru sempat melakukan pengecekan di sekolah ini. Untuk menuju ke sekolah ini, saya harus naik 2x kendaraan, pertama naik angkot dengan biaya Rp 5.000,- turun di Kota SoE, kemudian naik ojeg dengan biaya Rp 20.000,-, sehingga sekali jalan harus mengeluarkan uang Rp 25.000,- PP Rp 50.000,- dan waktu yang ditempuh adri tempat tinggalku ke sekolah ini sekitar 1,5 jam.
Berangkat jam 08.00 WITA saya sampai di sekolah ini jam 09.30 WITA, dan langsung melakukan pengecekan sinyal parabola. Alhamdulillah sinyal stabil pada posisi 87% untuk Trans TV dan 85% untuk Seamolec. Selanjutnya saya cek jaringan dan streaming, semuanya bagus. Seperti biasa saya melakukan pengecekan sambil memberikan pelajaran kepada teknisi lokal, Alhamdulillah sudah bisa dipahami sedikit demi sedikit oleh teknisi lokal meski perlu banyak belajar.
Selasa (17/8) saya bersama Kepala SD Inpres oenali mengikuti Upacara Bendera dalam rangka Peringatan Kemerdekaan RI Ke-65 di Lapangan Kecamatan Amanuban Barat. Pada hari Rabu (18/8) saya melakukan pengecekan di SD GMIT Oinlasi. Saya berangkat dari rumah jam 08.00 WITA menggunakan Angkot turun di Cabang Niki-Niki dengan biaya Rp 10.000,-, kemudian naik ojeg menuju sekolah dengan biaya Rp 25.000,-, jadi untuk menuju sekolah ini saya harus mengeluarkan dana sebesar Rp 35.000,- satu kali jalan PP Rp 70.000,- (benar-benar lumayan pengeluaran untuk transportasi). Sampai di sekolah jam 10.10 WITA dan langsung saya lakukan pengecekan sinyal, Alhamdulillah masih stabil pada posisi 83% untuk Trans TV dan 85% untuk Seamolec (entah kenapa sinyal Seamolec disini lebih besar dari Trans TV). Selanjutnya seperti biasa saya langsung check jaringan dan streaming sambil memberikan pembelajaran kembali kepada teknisi lokal, Alhamdulillah meski agak rumit tapi ahirnya bisa dipahami juga. Selesai pengecekan jam 14.00 WITA saya langsung mencari Masjid untuk sholat dzuhur (kebetulan di sini ada Masjid meski jalan kaki lumayan jauh). Pulang dari SD GMIT Oinlasi jam 15.30 dan sampai di rumah tempat tinggal jam 17.45 WITA.
Kamis (19/8) saya melakukan pengecekan di SD Inpres Oenali. Sekolah ini yang paling dekat dengan tempat tinggalku karena memang saya tinggal di rumah kepala sekolah ini, sehingga saya cukup berjalan kaki sekitar 350 M. Alhamdulillah pengecekan berjalan lancar, sinyal stabil pada posisi 84% untuk Trans TV dan 86% untuk Seamolec, jaringan dan siaran pun bisa ditangkap dengan bagus. Namun sayang belum bisa memberikan pembelajaran lanjutan kepada teknisi lokal mengingat teknisi lokal sedang ada acara di Jakarta.
Jum'at (20/8) saya diminta oleh Ibu Kepala SD Inpres Panite 2 untuk mengantarnya membeli komputer di Kota SoE. berangkat dari rumah jam 09.00 WITA dan hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai di toko komputer yang dituju, namun sampai di sana Ibu Kepala belum datang hingga saya menunggu di depan toko sekitar 15 menit. Setelah bertemu dan langsung masuk ke toko, kemudian pihak sekolah melobi pemilik toko, karena dana sekolah belum mencukupi sehingga harus ambil kredit. Alhamdulillah ada kata sepakat antara pemilik toko dan pihak sekolah. saya meminta kepada pemilik toko agar komputer tidak perlu diinstal SO, tapi ternyata pemilik toko tidak begitu paham komputer (baru kali ini saya ketemu penjual komputer tidak paham komputer). Selanjutnya saya nyalakan komputer tapi kabel yang menghubungkan CPU dan Monitor dicari tidak ketemu-ketemu, hingga saya menunggu sampai jam 11.30 WITA. setelah kabel ketemu langsung saya nyalakan ternyata sudah ada Windows XPnya, tapi penjual komputer tidak tahu, dia hanya bilang bahwa pihaknya ambil dari agennya sudah seperti itu. Ahirnya komputer diterima, dan mengingat waktu sudah menunjukkan jam 1145 WITA, maka saya pamitan kepada Ibu Kepala untuk ke Masjid menunaikan Sholat Jum'at, dan saya akan menginstal server esok harinya karena jika setelah selesai sholat jum'at saya ke Panite, maka alamat saya pulang malam dan tidak ada kendaraan dan di panite tidak tempat untuk saya tinggal padahal saya juga sedang puasa, jarak tempuh ke sekolah ini sekitar 2 jam.
sesuai janji saya, sabtu (21/8) saya berangkat ke SD Inpres Panite 2, dari rumah jam 07.00 WITA menggunakan bus jurusan kupang turun di Batu Putih (perbatasan TTS dan Kupang) dengan biaya Rp 10.000,-, kemudian dari Batu Putih saya naik ojeg dengan biaya Rp 20.000,- jadi biaya yang harus dikeluarkan untuk sampai di SD Inpres Panite 2 sebesar Rp 30.000,- satu kali jalan, PP Rp 60.000,-. sampai di sekolah jam 09.15 WITA, di sana telah menunggu guru-guru dan Kepala sekolah, tapi di sekolah ini hanya ada listrik ketika malam hari, sehingga sampai di sana saya harus menunggu pihak sekolah menyediakan diesel, setelah menunggu sekitar 30 menit diesel nyala, saya langsung menyalakan komputer untuk terlebih dahulu menghilangkan partisi dengan menggunakan CD instalasi Windows XP, namun setelah saya masukkan CD Windows XP ternyata CD yang dikasihkan Rustam tidak bisa digunakan, sementara saat beli komputer lupa tidak dikasih CD Windows XP, saya coba berulang-ulang sampai jam 13.30 WITA tidak bisa juga, ahirnya saya matikan komputer dan saya berjanji akan mengulang instalasi server pada hari berikutnya. Setelah berpamitan, saya kemudian pulang dari Panite jam 14.00 WITA.
Senin (23/8) yang semestinya saya akan mengulang instalasi server di Panite, tapi dapat sms dari Seamolec bahwa hari senin jam 08.00 WIB atau jam 09.00 WITA ada vcon Seamolec - Undana di Kupang, sehingga semua tim NTT diminta untuk memantau siaran tersebut dan selanjutnya melaporkan hasil siaran tersebut. Ahirnya saya memutuskan untuk memantau di sekolah terdekat yaitu di SD Inpres Oenali dan teknisi lokal di sekolah lain saya telpon untuk ikut memantaunya. Namun karena masih agak bingung saya harus telpon cukup lama untuk tiap sekolah menerangkan cara menyalakan streaming. Setelah ditunggu hingga jam 10.30 WITA tidak juga muncul siaran, ternyata acara tersebut dibatalkan mengingat Jaringan dari Undana sedang dipakai untuk acara Seminar (cape dech.....).
Selasa (24/8) yang sedianya saya akan ke Panite lagi, tapi saya belum mendapatkan instalasi Windows XP yang baru sehingga dengan terpaksa ditunda lagi.
Catatan : Dari titik yang sudah bagus jaringannya belum ada satupun yang mendapatkan kiriman data dari Seamolec, sehingga ketika saya cek data selalu kosong. Demikian laporan sementara saya dari Kabupaten Timor Tengah Selatan Provinsi nusa Tenggara Timur, mohon share dari teman-teman dan pihak Seamolec untuk perbaikan kinerja saya ke depan.
Welcome
Selamat Datang di blogmengini, sebuah blog yang akan membuat anda tertarik untuk selalu menyimak dan manikmati baik yang bersifat pengetahuan maupun artistik lainnya.
Selasa, 24 Agustus 2010
Minggu, 08 Agustus 2010
Laporan Awal Agustus
Setelah menunggu keputusan dari Dinas PPO Kab. TTS Prov. NTT, ahirnya diputuskan tidak ada pemindahan tempat jaringan SeaEdunet, namun untuk di SD N Kesetnana yang lokasinya memiliki cuaca kurang bagus, angin berhembus terlalu kencang hingga posisi parabola terus goyang, maka harus digeser ke posisi yang lebih bagus. sehingga, kamis (5/8) saya ditemani santoso melakukan pointing ulang, setelah sebelumnya pihak sekolah membongkar tempat parabola dan menggeser parabola ke selatan, di sini angin tidak membuat parabola bergoyang lagi.
Alhamdulillah meski dengan peralatan seadanya, akhirnya pointing dapat kami lakukan dengan baik dan sukses. SNR menembus angka 86% dan membutuhkan waktu 1,5 jam. Setelah selesai melakukan pointing, kami langsung melakukan pengecekan jaringan, Alhamdulillah jaringan juga bagus, dan bisa menghasilkan siaran dari seamolec melalui Videolan vlc.
Hari berikutnya, jum'at (6/8) santoso kembali ke Kefamenanu Kab. TTU dan saya kembali melakukan pengecekan di SD Inpres Oenali Kec. Amanuban Barat, Alhamdulillah meski tutup LNB terlepas dan segera saya pasang kembali, tetapi sinyal tetap stabil, SNR tetap pada posisi 85%, dan siaran bisa ditangkap dengan baik.
Sabtu (7/8) saya melakukan pengecekan di SD GMIT Oinlasi Kec. Amanatun Selatan. di sekolah ini sejak dipasang jaringan belum sempat saya cek kembali karena posisi listrik tidak stabil, sering mengalami mati lampu secara endadak dalam waktu yang cukup lama hingga berhari-hari. Setelah dilakukan pengecekan ternyata SNR turun hingga 63%, ahirnya saya lakukan pointing ulang dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya Alhamdulillah bisa kembali normal, SNR mencapai 86%, dan saya cek pada client dg membuka 192.168.1.254 pada browser, siaran televisi bisa saya jalankan melalui komputer clien yaitu dengan menggunakan laptopku. Akan tetapi ketika saya cek melalui vlc tidak mau muncul siaran, padahal sinyal sudah stabil. Apakah ini karena program vlc punyaku yang bermasalah? (mohon sharing dr teman-teman).
Sementara di sekolah lain yang terpasang jaringan SeaEdunet, yaitu SD N Ajaobtomas Kec. Molo Utara belum sempat saya cek ulang jaringan karena saluran listrik di sana belum stabil, alias sering mati. Sedangkan sekolah lain yang juga belum saya cek adalah di SD Inpres Panite 2 Kec. Amanuban Selatan. Di sana sampai sekarang belum diinstal server karena memang sekolah tersebut belum memiliki komputer, tapi pihak sekolah berjanji akan membeli komputer setelah dana BOS cair, kira-kira antara agustus atau september, maklum di sini semua Sekolah Dasar tidak memungut biaya sekolah sepeser pun dari siswa, sehingga semua kebutuhan sekolah harus menunggu dana BOS.
Demikian laporan sementara saya dari Kab. Timor Tengah Selatan Prov. Nusa Tenggara Timur. Besar harapan saya, ada kritik dan saran atau sharing dari teman-teman semua atau dari pihak Seamolec untuk memperbaiki kinerja saya di sini. Atas kebersamaan teman-teman dalam rangka membangun negeri ini, saya ucapkan terima kasih, dan mohon maaf jika kinerja saya hasilnya kurang maksimal.
Laporan Awal Agustus
Setelah menunggu keputusan dari Dinas PPO Kab. TTS Prov. NTT, ahirnya diputuskan tidak ada pemindahan tempat jaringan SeaEdunet, namun untuk di SD N Kesetnana yang lokasinya memiliki cuaca kurang bagus, angin berhembus terlalu kencang hingga posisi parabola terus goyang, maka harus digeser ke posisi yang lebih bagus. sehingga, kamis (5/8) saya ditemani santoso melakukan pointing ulang, setelah sebelumnya pihak sekolah membongkar tempat parabola dan menggeser parabola ke selatan, di sini angin tidak membuat parabola bergoyang lagi.
Alhamdulillah meski dengan peralatan seadanya, akhirnya pointing dapat kami lakukan dengan baik dan sukses. SNR menembus angka 86% dan membutuhkan waktu 1,5 jam. Setelah selesai melakukan pointing, kami langsung melakukan pengecekan jaringan, Alhamdulillah jaringan juga bagus, dan bisa menghasilkan siaran dari seamolec melalui Videolan vlc.
Hari berikutnya, jum'at (6/8) santoso kembali ke Kefamenanu Kab. TTU dan saya kembali melakukan pengecekan di SD Inpres Oenali Kec. Amanuban Barat, Alhamdulillah meski tutup LNB terlepas dan segera saya pasang kembali, tetapi sinyal tetap stabil, SNR tetap pada posisi 85%, dan siaran bisa ditangkap dengan baik.
Sabtu (7/8) saya melakukan pengecekan di SD GMIT Oinlasi Kec. Amanatun Selatan. di sekolah ini sejak dipasang jaringan belum sempat saya cek kembali karena posisi listrik tidak stabil, sering mengalami mati lampu secara endadak dalam waktu yang cukup lama hingga berhari-hari. Setelah dilakukan pengecekan ternyata SNR turun hingga 63%, ahirnya saya lakukan pointing ulang dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya Alhamdulillah bisa kembali normal, SNR mencapai 86%, dan saya cek pada client dg membuka 192.168.1.254 pada browser, siaran televisi bisa saya jalankan melalui komputer clien yaitu dengan menggunakan laptopku. Akan tetapi ketika saya cek melalui vlc tidak mau muncul siaran, padahal sinyal sudah stabil. Apakah ini karena program vlc punyaku yang bermasalah? (mohon sharing dr teman-teman).
Sementara di sekolah lain yang terpasang jaringan SeaEdunet, yaitu SD N Ajaobtomas Kec. Molo Utara belum sempat saya cek ulang jaringan karena saluran listrik di sana belum stabil, alias sering mati. Sedangkan sekolah lain yang juga belum saya cek adalah di SD Inpres Panite 2 Kec. Amanuban Selatan. Di sana sampai sekarang belum diinstal server karena memang sekolah tersebut belum memiliki komputer, tapi pihak sekolah berjanji akan membeli komputer setelah dana BOS cair, kira-kira antara agustus atau september, maklum di sini semua Sekolah Dasar tidak memungut biaya sekolah sepeser pun dari siswa, sehingga semua kebutuhan sekolah harus menunggu dana BOS.
Demikian laporan sementara saya dari Kab. Timor Tengah Selatan Prov. Nusa Tenggara Timur. Besar harapan saya, ada kritik dan saran atau sharing dari teman-teman semua atau dari pihak Seamolec untuk memperbaiki kinerja saya di sini. Atas kebersamaan teman-teman dalam rangka membangun negeri ini, saya ucapkan terima kasih, dan mohon maaf jika kinerja saya hasilnya kurang maksimal.
Alhamdulillah meski dengan peralatan seadanya, akhirnya pointing dapat kami lakukan dengan baik dan sukses. SNR menembus angka 86% dan membutuhkan waktu 1,5 jam. Setelah selesai melakukan pointing, kami langsung melakukan pengecekan jaringan, Alhamdulillah jaringan juga bagus, dan bisa menghasilkan siaran dari seamolec melalui Videolan vlc.
Hari berikutnya, jum'at (6/8) santoso kembali ke Kefamenanu Kab. TTU dan saya kembali melakukan pengecekan di SD Inpres Oenali Kec. Amanuban Barat, Alhamdulillah meski tutup LNB terlepas dan segera saya pasang kembali, tetapi sinyal tetap stabil, SNR tetap pada posisi 85%, dan siaran bisa ditangkap dengan baik.
Sabtu (7/8) saya melakukan pengecekan di SD GMIT Oinlasi Kec. Amanatun Selatan. di sekolah ini sejak dipasang jaringan belum sempat saya cek kembali karena posisi listrik tidak stabil, sering mengalami mati lampu secara endadak dalam waktu yang cukup lama hingga berhari-hari. Setelah dilakukan pengecekan ternyata SNR turun hingga 63%, ahirnya saya lakukan pointing ulang dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya Alhamdulillah bisa kembali normal, SNR mencapai 86%, dan saya cek pada client dg membuka 192.168.1.254 pada browser, siaran televisi bisa saya jalankan melalui komputer clien yaitu dengan menggunakan laptopku. Akan tetapi ketika saya cek melalui vlc tidak mau muncul siaran, padahal sinyal sudah stabil. Apakah ini karena program vlc punyaku yang bermasalah? (mohon sharing dr teman-teman).
Sementara di sekolah lain yang terpasang jaringan SeaEdunet, yaitu SD N Ajaobtomas Kec. Molo Utara belum sempat saya cek ulang jaringan karena saluran listrik di sana belum stabil, alias sering mati. Sedangkan sekolah lain yang juga belum saya cek adalah di SD Inpres Panite 2 Kec. Amanuban Selatan. Di sana sampai sekarang belum diinstal server karena memang sekolah tersebut belum memiliki komputer, tapi pihak sekolah berjanji akan membeli komputer setelah dana BOS cair, kira-kira antara agustus atau september, maklum di sini semua Sekolah Dasar tidak memungut biaya sekolah sepeser pun dari siswa, sehingga semua kebutuhan sekolah harus menunggu dana BOS.
Demikian laporan sementara saya dari Kab. Timor Tengah Selatan Prov. Nusa Tenggara Timur. Besar harapan saya, ada kritik dan saran atau sharing dari teman-teman semua atau dari pihak Seamolec untuk memperbaiki kinerja saya di sini. Atas kebersamaan teman-teman dalam rangka membangun negeri ini, saya ucapkan terima kasih, dan mohon maaf jika kinerja saya hasilnya kurang maksimal.
Senin, 02 Agustus 2010
Laporan Magang Akhir Juli
Hadir di pulau pengembaraan di wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan Prov. Nusa Tenggara Timur pada sabtu, 17 Juli 2010. Awalnya terjadi kerancuan, mengingat kami dengan Rustam Ikhsanusi (Staff Seamolec) sedianya berangkat tgl 16/07 tapi diundur sehari yaitu 17/07 mengingat tidak tersedianya tiket pesawat untuk tgl 16/07, hal itu juga sudah dikonfirmasikan ke pihak YGCC dlm hal ini Mas Erwin dan Mas Apri, namun terjadi miskomunikasi, informasi pengunduran jadwal kami tidak sampai ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO) Kab. TTS, sehingga pd 16/07 sebenarnya telah berkumpul guru2 perwakilan dari 5 sekolah yang akan mendapatkan bantuan jaringan SeaEdunet. Namun Alhamdulillah semua itu tidak menjadi kendala berarti.
Keesokan harinya, minggu 18/07 kami langsung disambut dengan sangat baik di SD Inpres Oenali Kec. Amanuban Barat, sampai kami dianugerahi kenang2an cindera mata berupa selendang yang merupakan khas Budaya Timor. setelah berramah tamah beberapa saat, kami pun langsung menyerahkan perlengkapan SeaEdunet untuk 2 sekolah yaitu SD Inpres Oenali dan SD GMIT Oinlasi Kec. Amanuban Selatan. sekitar jam 13.00 WITA kami meluncur ke SD N Kesetnana Kec. Molo Selatan dan disambut oleh Kepala Sekolah yang didampingi beberapa orang guru. setelah berramah tamah, kemudian kami menyerahkan perlengkapan SeaEdunet untuk 3 sekolah yaitu untuk SD N Kesetnana, SD N Ajaobtomas Kec. Molo Utara dan SD Inpres Panite 2 Kec. Amanatun Selatan.
Senin, 19/07 semua perwakilan dari 5 sekolah yang akan menjadi Teknisi Lokal di masing-masing sekolah berkumpul di SD Inpres Oenali guna mengikuti pelatihan yang kami adakan, hadir pada saat itu Sekretaris Dinas PPO kab. TTS. Selesai pelatihan kami lanjutkan dengan pointing di SD Inpres Oenali hingga pukul 18.30 WITA.
Hari-hari kami selanjutnya disibukkan dengan pointing dari 1 sekolah ke sekolah lain, hingga akhirnya semua titik berhasil terpasang jaringan SeaEdunet. Namun demikian ada sedikit kendala yang kami alami, diantaranya di SD Inpres Panite 2 ternyata belum memiliki komputer dan berjanji akan membeli komputer pada sekitar bulan Agustus ketika dana BOS cair (maklum sekolah di sini memang tidak memungut biaya sepeser pun dari siswa sehingga semua kebutuhan sekolah harus menunggu cairnya dana BOS). Akibatnya kami belum sempat menginstal server pada sekolah tersebut. Proses pointing di 5 sekolah berhasil kami selesaikan pada Sabtu 24/07.
Hari Minggu, 25/07, Rustam meluncur ke Kupang karena esok harinya, senin 26/07 dia harus kembali ke Jakarta. Senin pagi saya melakukan pengecekan di SD N Kesetnana, memang sengaja saya memulai pengecekan di sekolah ini mengingat di sekolah ini yang paling susah dalam pemasangan parabola, dimungkinkan karena angin yang sangat kencang sehingga parabola goyang-goyang terus. Selepas dari Kesetnana, saya langsung meluncur ke Oenali, tepatnya di rumah Ibu Yublina A Tahun, Kepala SD Inpres Oenali, di sini saya diterima dengan baik, bahkan disediakan tempat untuk tinggal tanpa harus mengeluarkan dana untuk nge-kos.
Untuk memastikan jaringan terpasang dengan baik, selasa 27/07 saya meluncur ke SD GMIT Oinlasi untuk melakukan pengecekan. namun sayang sekali sampai di sana Listrik padam, saya tunggu hingga pukul 13.00 WITA listrik belum juga menyala, akhirnya saya pulang tanpa hasil. keesokan harinya, Rabu 28/07 saya ditelpon oleh Sekretaris Dinas PPO Kab. TTS dan disuruh menghadap beliau. sesampai di kantor Dinas PPO, saya disambut Sekretaris Dinas dan beberapa Kasubdin di ruang Sekretaris. Pada kesempatan tersebut, Sekretaris menyatakan, mengingat banyaknya jumlah calon Mahasiswa yang diterima berasal dari Kec. Amanuban Tengah dan Amanuban Timur, sementara jaringan SeaEdunet yang dipasang tidak terdapat di wilayah tersebut dan jarak dengan titik SeaEdunet yang sudah terpasang jaraknya cukup jauh dari kecamatan tersebut, sementara dua titik SeaEdunet yang telah terpasang yakni di SD Inpres Oenali dan SD N Kesetnana memiliki jarak yang tidak terlalu jauh, maka Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kab. TTS melalui Sekretaris Dinas meminta kami untuk memindahkan salah satu titik SeaEdunet (SD Inpres Oenali atau SD N Kesetnana) ke wilayah Kec. Amanuban Tengah agar akses mahasiswa dari wilayah tersebut tidak terlalu jauh. saat itu saya menjawab, bahwa saya hanyalah pelaksana tugas di lapangan, semua keputusan ada pada pihak Pertamina selaku pemilik Proyek dan Dinas PPO selaku Pemerintah Kab. TTS. namun demikian saya memberikan gambaran, jika melihat diantara dua titik (antara SD Inpres Oenali dan SD N Kesetnana), maka SD Inpres Oenali layak dipertahankan, mengingat jaringan di tempat tersebut cukup stabil, lain halnya di SD N Kesetnana angin bertiup sangat kencang sehingga posisi parabola terus goyang yang mengakibatkan jaringan SeaEdunet tidak stabil sehingga seringkali tidak mampu menangkap siaran dari pusat.
Mendengar penuturan saya tersebut, Sekretaris Dinas PPO mengatakan bahwa pihaknya akan mengkoordinasikan hal tersebut dengan Bupati TTS selaku Pemerintah tertinggi di wilayah ini.
Kamis, 29/07 saya diminta oleh Ibu kepala SD Inpres Oenali untuk memberikan pelajaran komputer bagi guru-guru di sekolah tersebut, terutama yang selama ini mengoperasikan komputer namun banyak sekali hal yang belum dimengerti. Alhamdulillah proses belajar berjalan lancar hingga saya pulang pukul 12.30 WITA. sebenarnya pada hari ini juga saya mendapat SMS dari Ibu Rosalina E. Lobo, Kepala SD N Kesetnana untuk mengoperasikan komputer di sekolahnya, namun karena sudah terlanjur berjalan pembelajaran di Oenali, sehingga keesokan harinya, jum'at 30/07 baru saya meluncur ke SD N kesetnana. sesampai di sana, ternyata yang dimaksud Ibu Kepala adalah menjalankan jaringan SeaEdunet di sekolahnya. saya pun langsung membuka jaringan server dan menyalakan televisi, namun ternyata jaringan turun drastis, hingga mentok di angka 67, padahal sebelumnya berada di posisi 84. hal ini terjadi dikarenakan cuaca angin yang terlalu kencang sehingga parabola goyang dan tidak stabil. Ketika saya sampaikan ke pihak kepala sekolah, beliau hanya mengatakan bahwa semua itu harus dengan kerja keras dan sabar, jangan minta enaknya saja pasang langsung jadi. Pada kesempatan itu saya menyampaikan hasil pertemuan saya dengan Sekretaris Dinas PPO, tentang kemungkinan akan dipindahkannya jaringan seaEdunet di sekolah ini ke wilayah Kec. Amanuban tengah, Kepala sekolah justru langsung menanggapi bahwa jika sampai dipindahkan maka pihaknya yang merasa telah mengeluarkan sejumlah dana guna pemasangan jaringan SeaEdunet tersebut menolak keras dan tidak akan menyetujui jaringan SeaEdunet yang telah terpasang di sekolahnya dipindahkan ke sekolah lain.
selanjutnya saya koordinasikan hal ini kepada Sekretaris Dinas PPO, namun beliau hanya mengatakan bahwa semua keputusan menunggu hasil koordinasi dengan Bupati, dan hal itu belum sempat beliau sampaikan. Kepala sekolah bahkan langsung menginstruksikan kepada penjaga sekolah untuk membeli semen dan membongkar parabola yang telah terpasang yang selanjutnya dipindahkan di sebelah selatan, diharapkan dengan dipindahkan nantinya posisi parabola bisa stabil.
Demikian laporan sementara saya, mudah-mudahan teman-teman semua, serta pihak seamolec berkenan memberikan koreksi guna kelancaran tugas saya selama di Kab. TTS Prov NTT ini hingga 6 bulan ke depan. Terima kasih...
Keesokan harinya, minggu 18/07 kami langsung disambut dengan sangat baik di SD Inpres Oenali Kec. Amanuban Barat, sampai kami dianugerahi kenang2an cindera mata berupa selendang yang merupakan khas Budaya Timor. setelah berramah tamah beberapa saat, kami pun langsung menyerahkan perlengkapan SeaEdunet untuk 2 sekolah yaitu SD Inpres Oenali dan SD GMIT Oinlasi Kec. Amanuban Selatan. sekitar jam 13.00 WITA kami meluncur ke SD N Kesetnana Kec. Molo Selatan dan disambut oleh Kepala Sekolah yang didampingi beberapa orang guru. setelah berramah tamah, kemudian kami menyerahkan perlengkapan SeaEdunet untuk 3 sekolah yaitu untuk SD N Kesetnana, SD N Ajaobtomas Kec. Molo Utara dan SD Inpres Panite 2 Kec. Amanatun Selatan.
Senin, 19/07 semua perwakilan dari 5 sekolah yang akan menjadi Teknisi Lokal di masing-masing sekolah berkumpul di SD Inpres Oenali guna mengikuti pelatihan yang kami adakan, hadir pada saat itu Sekretaris Dinas PPO kab. TTS. Selesai pelatihan kami lanjutkan dengan pointing di SD Inpres Oenali hingga pukul 18.30 WITA.
Hari-hari kami selanjutnya disibukkan dengan pointing dari 1 sekolah ke sekolah lain, hingga akhirnya semua titik berhasil terpasang jaringan SeaEdunet. Namun demikian ada sedikit kendala yang kami alami, diantaranya di SD Inpres Panite 2 ternyata belum memiliki komputer dan berjanji akan membeli komputer pada sekitar bulan Agustus ketika dana BOS cair (maklum sekolah di sini memang tidak memungut biaya sepeser pun dari siswa sehingga semua kebutuhan sekolah harus menunggu cairnya dana BOS). Akibatnya kami belum sempat menginstal server pada sekolah tersebut. Proses pointing di 5 sekolah berhasil kami selesaikan pada Sabtu 24/07.
Hari Minggu, 25/07, Rustam meluncur ke Kupang karena esok harinya, senin 26/07 dia harus kembali ke Jakarta. Senin pagi saya melakukan pengecekan di SD N Kesetnana, memang sengaja saya memulai pengecekan di sekolah ini mengingat di sekolah ini yang paling susah dalam pemasangan parabola, dimungkinkan karena angin yang sangat kencang sehingga parabola goyang-goyang terus. Selepas dari Kesetnana, saya langsung meluncur ke Oenali, tepatnya di rumah Ibu Yublina A Tahun, Kepala SD Inpres Oenali, di sini saya diterima dengan baik, bahkan disediakan tempat untuk tinggal tanpa harus mengeluarkan dana untuk nge-kos.
Untuk memastikan jaringan terpasang dengan baik, selasa 27/07 saya meluncur ke SD GMIT Oinlasi untuk melakukan pengecekan. namun sayang sekali sampai di sana Listrik padam, saya tunggu hingga pukul 13.00 WITA listrik belum juga menyala, akhirnya saya pulang tanpa hasil. keesokan harinya, Rabu 28/07 saya ditelpon oleh Sekretaris Dinas PPO Kab. TTS dan disuruh menghadap beliau. sesampai di kantor Dinas PPO, saya disambut Sekretaris Dinas dan beberapa Kasubdin di ruang Sekretaris. Pada kesempatan tersebut, Sekretaris menyatakan, mengingat banyaknya jumlah calon Mahasiswa yang diterima berasal dari Kec. Amanuban Tengah dan Amanuban Timur, sementara jaringan SeaEdunet yang dipasang tidak terdapat di wilayah tersebut dan jarak dengan titik SeaEdunet yang sudah terpasang jaraknya cukup jauh dari kecamatan tersebut, sementara dua titik SeaEdunet yang telah terpasang yakni di SD Inpres Oenali dan SD N Kesetnana memiliki jarak yang tidak terlalu jauh, maka Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kab. TTS melalui Sekretaris Dinas meminta kami untuk memindahkan salah satu titik SeaEdunet (SD Inpres Oenali atau SD N Kesetnana) ke wilayah Kec. Amanuban Tengah agar akses mahasiswa dari wilayah tersebut tidak terlalu jauh. saat itu saya menjawab, bahwa saya hanyalah pelaksana tugas di lapangan, semua keputusan ada pada pihak Pertamina selaku pemilik Proyek dan Dinas PPO selaku Pemerintah Kab. TTS. namun demikian saya memberikan gambaran, jika melihat diantara dua titik (antara SD Inpres Oenali dan SD N Kesetnana), maka SD Inpres Oenali layak dipertahankan, mengingat jaringan di tempat tersebut cukup stabil, lain halnya di SD N Kesetnana angin bertiup sangat kencang sehingga posisi parabola terus goyang yang mengakibatkan jaringan SeaEdunet tidak stabil sehingga seringkali tidak mampu menangkap siaran dari pusat.
Mendengar penuturan saya tersebut, Sekretaris Dinas PPO mengatakan bahwa pihaknya akan mengkoordinasikan hal tersebut dengan Bupati TTS selaku Pemerintah tertinggi di wilayah ini.
Kamis, 29/07 saya diminta oleh Ibu kepala SD Inpres Oenali untuk memberikan pelajaran komputer bagi guru-guru di sekolah tersebut, terutama yang selama ini mengoperasikan komputer namun banyak sekali hal yang belum dimengerti. Alhamdulillah proses belajar berjalan lancar hingga saya pulang pukul 12.30 WITA. sebenarnya pada hari ini juga saya mendapat SMS dari Ibu Rosalina E. Lobo, Kepala SD N Kesetnana untuk mengoperasikan komputer di sekolahnya, namun karena sudah terlanjur berjalan pembelajaran di Oenali, sehingga keesokan harinya, jum'at 30/07 baru saya meluncur ke SD N kesetnana. sesampai di sana, ternyata yang dimaksud Ibu Kepala adalah menjalankan jaringan SeaEdunet di sekolahnya. saya pun langsung membuka jaringan server dan menyalakan televisi, namun ternyata jaringan turun drastis, hingga mentok di angka 67, padahal sebelumnya berada di posisi 84. hal ini terjadi dikarenakan cuaca angin yang terlalu kencang sehingga parabola goyang dan tidak stabil. Ketika saya sampaikan ke pihak kepala sekolah, beliau hanya mengatakan bahwa semua itu harus dengan kerja keras dan sabar, jangan minta enaknya saja pasang langsung jadi. Pada kesempatan itu saya menyampaikan hasil pertemuan saya dengan Sekretaris Dinas PPO, tentang kemungkinan akan dipindahkannya jaringan seaEdunet di sekolah ini ke wilayah Kec. Amanuban tengah, Kepala sekolah justru langsung menanggapi bahwa jika sampai dipindahkan maka pihaknya yang merasa telah mengeluarkan sejumlah dana guna pemasangan jaringan SeaEdunet tersebut menolak keras dan tidak akan menyetujui jaringan SeaEdunet yang telah terpasang di sekolahnya dipindahkan ke sekolah lain.
selanjutnya saya koordinasikan hal ini kepada Sekretaris Dinas PPO, namun beliau hanya mengatakan bahwa semua keputusan menunggu hasil koordinasi dengan Bupati, dan hal itu belum sempat beliau sampaikan. Kepala sekolah bahkan langsung menginstruksikan kepada penjaga sekolah untuk membeli semen dan membongkar parabola yang telah terpasang yang selanjutnya dipindahkan di sebelah selatan, diharapkan dengan dipindahkan nantinya posisi parabola bisa stabil.
Demikian laporan sementara saya, mudah-mudahan teman-teman semua, serta pihak seamolec berkenan memberikan koreksi guna kelancaran tugas saya selama di Kab. TTS Prov NTT ini hingga 6 bulan ke depan. Terima kasih...
Rabu, 16 September 2009
Kualitas Guru

Dunia Pendidikan saat ini sedang mendapatkan angin segar dari Pemerintah. Saat ini pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar 20% dari APBN untuk biaya pendidikan. Dana tersebut selanjutnya digunakan untuk membangun infrastruktur, melengkapi sarana prasarana pendidikan, membantu sekolah dalam melengkapi sarana KBM, menambah tunjangan untuk guru, dll.
Dengan adanya kebijakan ini, para guru pun lebih sedikit bisa bernafas. Saat ini, para guru selain mendapat HR dari sekolah juga mendapat beberapa tunjangan dari pemerintah, baik pemerintah Kabupaten/Kota maupun Pemerintah pusat. Bahkan saat ini lagi rame dengan kebijakan baru yakni tunjangan sertifikasi. Ini sangat berbeda 180 derajat dibanding dengan Era Orde Baru, sampai Iwan Fals menciptakan sebuah lagu berjudul Umar Bakri, adalah sebuah deskripsi kehidupan seorang guru saat itu yang sangat tidak layak dibanding perjuangannya.
Dengan adanya beberapa tunjangan guru yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan, meski belum maksimal, bagaimana selanjutnya? Peningkatan Kualitas guru dalam mengajar adalah harga mati yang tidak bisa ditawar lagi. Kualitas guru dalam mengajar sangat diperlukan untuk mampu menghasilkan anak didik yang berpotensi dan siap menghadapi dunia global di masa yang akan datang. Pertanyaannya sekarang, apakah saat ini kualitas seorang guru sudah cukup sebagai modal membina anak didik? apakah para guru sudah benar-benar layak mendapat predikat seorang guru? apakah akta mengajar yang telah dimiliki guru benar-benar nyata tidak hanya selembar kertas saja?. Pertanyaan tersebut terlalu subjektif jika dijawab. Akan tetapi sangat penting untuk diwujud nyatakan dalam tindakan riil di lapangan, dalam rangka ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai amanat UUD 1945.
Kepada semua guru di mana pun dan dari sekolah manapun, Selamat Berjuang meningkatkan kualitas diri dalam rangka Menciptakan generasi penerus yang handal, tangguh dan berkualitas demi kejayaan bangsa di masa yang akan datang.
Kamis, 27 Agustus 2009
Salah Kaprah
Ketenaran Kentucky Fried Chicken menginspirasikan para pedagang makanan di Kota Tegal untuk membuat makanan serupa dengan mengganti bahan yg terbuat dari ayam menjadi tahu. Makanan itu kemudian diberi nama Tahu Chicken karena terbuat dari tahu.
Hal ini sebagai salah satu bentuk kreatifitas orang Tegal yang berusaha mencari minat ataupun pelanggan bagi para penggemar makanan asal negeri Paman Sam yang mencapai ratusan ribu orang di Kota Tegal. Sebagai Kota yang terkenal dengan Tahu Aci sebagai salah satu makanan khasnya, ternyata orang tegal mampu menciptakan inovasi baru yang mampu merebut penggemar makanan Fried Chicken, terutama bagi penggemar yang berkantong cekak. Jika dibandingkan dengan Fried Chicken, makanan dari Tegal yang terbuat dari tahu ini terbilang cukup murah meriah. Jika Fried Chicken dijual dengan harga antara 3.000 sampai 4.500 (yang dijual di emper-emper toko, bahkan jika dijual di mall-mall, makanan ini dijual dengan harga antara 10.000 sampai 15.000. Sedangkan makanan serupa yang diproduksi orang tegal dengan bahan utama tahu, dijual dengan harga sangat murah, hanya berkisar antara 500 sampai 1.000 perak.
Murahnya harga ini, membuat orang dengan kantong cekak tapi ingin menikmati Fried Chicken memilih makanan yang satu ini. Selain harganya cukup murah, rasa yang disediakan tidak kalah dengan makanan asal negerinya Barack Obama. Perbedaan yang menonjol dari segi rasa, hanyalah antara bahan dari daging ayam dengan tahu. Hal ini menurut beberapa orang, tidak menjadi masalah yang menonjol. "Saya kira terbuat dari daging ayam ataupun dari tahu itu rasanya tetap sama, soal vitamin juga baik untuk kesehatan," ungkap Joni, salah satu penggemar makanan yang konon disebut dengan nama Tahu Chicken.
Bagi orang tegal, nama Tahu Chicken dianggap lumrah, karena latahnya mulut jawa yang menganggap chicken itu jenis makanan itu (bukan diambil dari nama bahan pembuatannya).
Namun kalau kita telaah, hal itu jelas salah kaprah. Pasalnya, sebenarnya nama chicken diambil karena bahan makanan itu diambil dari daging ayam diolesi tepung. Jika kemudian bahan daging ayam diganti menjadi tahu, pantaskah memakai nama Tahu Chicken?. Inilah yang penulis anggap sebagai sesuatu yang salah kaprah, bener ora lumrah.
Hal ini sebagai salah satu bentuk kreatifitas orang Tegal yang berusaha mencari minat ataupun pelanggan bagi para penggemar makanan asal negeri Paman Sam yang mencapai ratusan ribu orang di Kota Tegal. Sebagai Kota yang terkenal dengan Tahu Aci sebagai salah satu makanan khasnya, ternyata orang tegal mampu menciptakan inovasi baru yang mampu merebut penggemar makanan Fried Chicken, terutama bagi penggemar yang berkantong cekak. Jika dibandingkan dengan Fried Chicken, makanan dari Tegal yang terbuat dari tahu ini terbilang cukup murah meriah. Jika Fried Chicken dijual dengan harga antara 3.000 sampai 4.500 (yang dijual di emper-emper toko, bahkan jika dijual di mall-mall, makanan ini dijual dengan harga antara 10.000 sampai 15.000. Sedangkan makanan serupa yang diproduksi orang tegal dengan bahan utama tahu, dijual dengan harga sangat murah, hanya berkisar antara 500 sampai 1.000 perak.
Murahnya harga ini, membuat orang dengan kantong cekak tapi ingin menikmati Fried Chicken memilih makanan yang satu ini. Selain harganya cukup murah, rasa yang disediakan tidak kalah dengan makanan asal negerinya Barack Obama. Perbedaan yang menonjol dari segi rasa, hanyalah antara bahan dari daging ayam dengan tahu. Hal ini menurut beberapa orang, tidak menjadi masalah yang menonjol. "Saya kira terbuat dari daging ayam ataupun dari tahu itu rasanya tetap sama, soal vitamin juga baik untuk kesehatan," ungkap Joni, salah satu penggemar makanan yang konon disebut dengan nama Tahu Chicken.
Bagi orang tegal, nama Tahu Chicken dianggap lumrah, karena latahnya mulut jawa yang menganggap chicken itu jenis makanan itu (bukan diambil dari nama bahan pembuatannya).
Namun kalau kita telaah, hal itu jelas salah kaprah. Pasalnya, sebenarnya nama chicken diambil karena bahan makanan itu diambil dari daging ayam diolesi tepung. Jika kemudian bahan daging ayam diganti menjadi tahu, pantaskah memakai nama Tahu Chicken?. Inilah yang penulis anggap sebagai sesuatu yang salah kaprah, bener ora lumrah.
Jumat, 24 Juli 2009
Menjadi Diri Sendiri
Manusia terkadang terlihat lebih over dari makhluk apapun. Kalimat ini mungkin terlalu ekstrim, tapi itulah kenyataan yang ada. Boleh terima atau tidak, yang pasti semua bisa kita buktikan.
Ada sebuah cerita seorang Kepala Desa -sebut saja namanya Bokir. Beliau dikenal oleh warganya sebagai sosok pemimpin yang sangat merakyat. Gaya bicaranya yang suka ceplas-ceplos dan humoris, serta penampilannya yang tidak seperti priyayi, dan seringnya memberikan bantuan kepada warganya, membuat sebagian besar warganya menaruh simpatik kepadanya. tak heran ketika diadakan pemilihan Kepala Desa, dan Bokir nyalon lagi, hasilnya adalah kemenangan yang cukup signifikan bagi Bokir, mengalahkan tiga calon lainnya.
Hampir di setiap RT di bawah "Kekuasaannya", Bokir pernah dan sering membagi-bagikan bantuan, baik bantuan untuk Musholla, Madrasah, maupun bantuan bagi rakyat miskin yang susah mencari makan. Jika dibandingkan dengan pendapatannya sebagai Kepala Desa, bantuan yang diberikan bokir terlalu besar. Ini jika nilai bantuan seluruhnya ditotal sangat jauh melebihi nilai total gaji yang didapatkannya sebagai pemimpin tingkat Desa yang hanya mendapatkan bengkok dan tunjangan secukupnya dari Pemkab.
Meski demikian, Rakyat tidak pernah dan tidak mau berfikir sumber bantuan itu dari mana. Bagi Rakyat Desa yang tergolong IDT, sumber bantuan dari mana itu tidaklah penting, yang terpenting baginya bisa merasakan nikmatnya bantuan dari sang Pemimpin yang dinilainya baik hati itu.
Padahal, semua bantuan yg diberikan Bokir untuk warganya itu, memang sudah dialokasikan oleh Pemkab untuknya, itupun tidak semuanya dibagi, tetapi ada sebagian yang diambil untuk dirinya sendiri. Tapi, kepintaran dan kecerdasan sang Kades dengan bahasanya yang manis, mampu menghipnotis warganya sehingga seolah bantuan itu memang uang pribadinya untuk membantu warganya.
Kayak apapun, hal ini tidak dibenarkan, namun juga sebuah kelemahan hukum yang tidak memuat pasal yang dapat menjerat perilaku demikian.Cerita diatas, merupakan sebuah deskripsi tentang perilaku manusia yang cenderung over di depan orang lain untuk menuai nilai plus. Sangat ironis jika kita faham betul bahwa seyogyanya manusia harus mampu menjadi Khalifatullah di muka bumi, yang semestinya seorang pemimpin harus bisa memberikan contoh yang baik bagi rakyatnya, bukan cenderung "Menipu" rakyatnya. Rakyat hanya akan menjadi tahu siapa Bokir sebenarnya, setelah Bokir melalui jalur hukum dinyatakan terbukti bersalah. Setelah itu, Rakyat akan mencaci habis-habisan, tidak lagi mengingat telah diberi banyak bantuan oleh Bokir. Namun seandainya Bokir mampu bersikap low profile dan apa adanya, tidak over dengan membagikan bantuan kepada rakyatnya dengan mengatasnamakan darinya, meski kurang mendapatkan penghormatan dari rakyatnya ketika masih menjabat, namun sebenarnya Allah telah mengangkat derajatnya lebih tinggi dari orang lain karena mampu menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Sejatinya, manusia harus mampu menjadi dirinya sendiri serta mampu menempatkan diri dalam segala urusan.
Ada sebuah cerita seorang Kepala Desa -sebut saja namanya Bokir. Beliau dikenal oleh warganya sebagai sosok pemimpin yang sangat merakyat. Gaya bicaranya yang suka ceplas-ceplos dan humoris, serta penampilannya yang tidak seperti priyayi, dan seringnya memberikan bantuan kepada warganya, membuat sebagian besar warganya menaruh simpatik kepadanya. tak heran ketika diadakan pemilihan Kepala Desa, dan Bokir nyalon lagi, hasilnya adalah kemenangan yang cukup signifikan bagi Bokir, mengalahkan tiga calon lainnya.
Hampir di setiap RT di bawah "Kekuasaannya", Bokir pernah dan sering membagi-bagikan bantuan, baik bantuan untuk Musholla, Madrasah, maupun bantuan bagi rakyat miskin yang susah mencari makan. Jika dibandingkan dengan pendapatannya sebagai Kepala Desa, bantuan yang diberikan bokir terlalu besar. Ini jika nilai bantuan seluruhnya ditotal sangat jauh melebihi nilai total gaji yang didapatkannya sebagai pemimpin tingkat Desa yang hanya mendapatkan bengkok dan tunjangan secukupnya dari Pemkab.
Meski demikian, Rakyat tidak pernah dan tidak mau berfikir sumber bantuan itu dari mana. Bagi Rakyat Desa yang tergolong IDT, sumber bantuan dari mana itu tidaklah penting, yang terpenting baginya bisa merasakan nikmatnya bantuan dari sang Pemimpin yang dinilainya baik hati itu.
Padahal, semua bantuan yg diberikan Bokir untuk warganya itu, memang sudah dialokasikan oleh Pemkab untuknya, itupun tidak semuanya dibagi, tetapi ada sebagian yang diambil untuk dirinya sendiri. Tapi, kepintaran dan kecerdasan sang Kades dengan bahasanya yang manis, mampu menghipnotis warganya sehingga seolah bantuan itu memang uang pribadinya untuk membantu warganya.
Kayak apapun, hal ini tidak dibenarkan, namun juga sebuah kelemahan hukum yang tidak memuat pasal yang dapat menjerat perilaku demikian.Cerita diatas, merupakan sebuah deskripsi tentang perilaku manusia yang cenderung over di depan orang lain untuk menuai nilai plus. Sangat ironis jika kita faham betul bahwa seyogyanya manusia harus mampu menjadi Khalifatullah di muka bumi, yang semestinya seorang pemimpin harus bisa memberikan contoh yang baik bagi rakyatnya, bukan cenderung "Menipu" rakyatnya. Rakyat hanya akan menjadi tahu siapa Bokir sebenarnya, setelah Bokir melalui jalur hukum dinyatakan terbukti bersalah. Setelah itu, Rakyat akan mencaci habis-habisan, tidak lagi mengingat telah diberi banyak bantuan oleh Bokir. Namun seandainya Bokir mampu bersikap low profile dan apa adanya, tidak over dengan membagikan bantuan kepada rakyatnya dengan mengatasnamakan darinya, meski kurang mendapatkan penghormatan dari rakyatnya ketika masih menjabat, namun sebenarnya Allah telah mengangkat derajatnya lebih tinggi dari orang lain karena mampu menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Sejatinya, manusia harus mampu menjadi dirinya sendiri serta mampu menempatkan diri dalam segala urusan.
Langganan:
Komentar (Atom)


