Puskesmas Gratis, Pelayanan Tetap Terjamin?
Oleh : Ach. Chanif Shofwan*
Seorang Pemuda bernama Jablud mengalami stress berat gara-gara diputus tunangannya yang bernama Nia, ditambah kakak Nia memiliki hutang cukup besar (untuk ukuran Jablud) kepadanya dan sangat sulit ditagih, padahal uang itu akan digunakan Jablud untuk mengembalikan hutangnya kepada orang lain. Praktis Jablud menjadi orang yang seperti kehilangan kendali. Baginya, hidup seolah sudah tidak mempunyai arti apa-apa lagi. Aktifitas yang selama ini menjadi pekerjaannya, kini tidak terurus, bahkan bisnis yang baru mulai dirintisnya pun menjadi berantakan.
Jablud kini hanya bisa menyendiri dan merenung serta melakukan aktifitas yang sama sekali tidak bermanfaat. Padahal, sebelumnya Jablud di mata teman sejawatnya dikenal sebagai seorang pekerja keras yang pantang menyerah. Jablud dikenal sebagai sosok yang mandiri dan tegar dalam menghadapi persoalan apapun, karena sejak kecil Jablud memang dididik orang tuanya menjadi orang yang tidak mudah bergantung pada orang lain. Jablud harus rela bekerja setengah hari saat masih duduk di bangku SMA guna meringankan biaya sekolah. Dan setelah lulus, Jablud harus banting tulang untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari, sampai harus pulang malam setiap hari. Kini setelah usahanya mendapatkan hasil yang cukup, menjadi berantakan lantaran masalah percintaan yang dihadapinya. Setiap kali teman atau saudaranya menanyakan pernikahannya, jantung Jablud langsung bergetar hebat dan merasa seperti ditikam.
Jablud merasa menjadi orang yang tidak memiliki arti hidup lagi sejak diputus Nia yang sudah menentukan tanggal pernikahan. Masalahnya karena Nia sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa dan menjanjikan kebahagiaan lahir batin ketika sudah hidup dalam satu atap nanti. Bahkan Nia rela memberikan semua keinginan Jablud yang selama ini tidak pernah didapatkannya dari orang lain. Sehingga Jablud pun rela memberikan semua yang diinginkan Nia. Kontan saja Jablud merasa sangat terpukul dan merasa terinjak-injak harga dirinya ketika menyaksikan secara langsung Nia selingkuh dengan mantan pacarnya. Apalagi Nia terang-terangan minta kembali kepada mantannya. Padahal pada hari itu, Nia janji akan datang ke rumah keluarga Jablud untuk bersilaturrahmi. Selang beberapa lama kemudian, Nia mengembalikan pertunangannya yang diwakili orang tuanya. Sejak saat itu, Jablud berubah drastis menjadi orang yang sangat lemah dan tidak memiliki daya apa-apa. Di mata teman-temannya, selama ini Jablud dikenal sebagai orang yang periang dan cerdas. Tapi kini semua hilang bagai ditelan bumi.
Persoalan ini juga diperparah ulah kakak Nia yang menggelapkan uang Jablud, dan sampai sekarang tidak juga mengembalikan. Padahal uang tersebut merupakan uang milik relasi bisnis Jablud yang baru dijalinnya. Kontan saja Jablud kehilangan kepercayaan dari relasi bisnisnya, yang berarti kehilangan asset bisnisnya yang berharga, lantaran selama ini Jablud menjalankan usahanya dengan modal kepercayaan. Kini, Jablud harus kehilangan Nia sebagai calon istri yang sangat dicintainya, dan pekerjaan yang menjadi tumpuan masa depannya.
Sebuah pengalaman hidup diatas merupakan sebuah ilustrasi yang menggambarkan bahwa seseorang akan merasa sangat terpukul dan sakit hati ketika orang yang selama ini memanjakannya, berubah 180 derajat alias mengkhianatinya. Hal ini juga akan dialami masyarakat yang dimanja oleh pemerintah, jika akhirnya sang pemerintah mengkhianatinya. Lebih menyakitkan daripada sejak awal tidak terlalu memanjakannya.
Sebagaimana program Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin yang merupakan pengalihan subsidi BBM. Program ini menyisakan persoalan yang kompleks. Di beberapa daerah, program ini menimbulkan percekcokan, pertikaian sampai pembunuhan. Tidak sedikit rumah Ketua RT/RW sampai Kepala Desa yang hancur oleh masyarakat yang mengaku miskin tetapi tidak mendapatkan dana BLT. Mereka menganggap Ketua RT/RW atau Kepala Desa sengaja tidak memasukkan namanya ke daftar warga penerima BLT. Sementara Pemerintah pusat yang mengeluarkan kebijakan ini tidak melakukan upaya preventif sebelumnya dan upaya rehabilitatif terhadap kebijakan tersebut. Karena barangkali Pemerintah tidak merasakan imbas dari kebijakannya. Padahal, kebijakan tersebut justru merupakan pembodohan terhadap masyarakat, karena tidak melatih masyarakat untuk berkreasi dalam berusaha.
Program Kesehatan Gratis Pemkot Tegal
Baru-baru ini, Pemerintah Kota Tegal membuat kebijakan yang dinilai sebagai langkah pemihakan kepada rakyat kecil, yaitu pelayanan kesehatan gratis di 8 Puskesmas dan 21 Puskesmas Pembantu (Pustu) khusus untuk warga Kota Tegal, dengan menunjukkan KTP dan KK asli. Jika tidak memiliki keduanya, bisa membawa surat keterangan sebagai warga Kota Tegal yang dikeluarkan Kelurahan. Langkah ini juga dinilai sebagai upaya Pemerintah memanjakan rakyatnya.
Kebijakan ini spontan menaikkan jumlah pengunjung di Puskesmas, terutama masyarakat yang selama ini hidup pas-pasan dan mendambakan hidup sehat tapi terhambat gara-gara tidak memiliki dana yang cukup untuk berobat. Dengan melonjaknya jumlah pasien di Puskesmas, petugas harus benar-benar siap dalam segala hal, baik sistem, SDM maupun sarana dan prasarana yang memadai. Kenyataannya, setelah kebijakan ini dikeluarkan, jusru dikeluhkan pegawai Puskesmas. Karena program ini terkesan mendadak. “Terus terang saja kami keteteran melaksanakan kebijakan ini. Awalnya, Dinkes Kota Tegal akan menerapkan pada pertengahan tahun 2008, tapi ternyata diajukan menjadi awal maret. Kami sebagai pelaksana di Puskesmas harus bergerak cepat mengurus segala keperluan,” kata Plt Kepala Puskesmas Tegal Timur II Kota Tegal Dr. Asti Sintawati baru-baru ini (NP, Kamis 5 maret 2008).
Keluhan pegawai Puskesmas tersebut bisa menjadi indikasi ketidakseriusan Pemkot dalam program ini, terutama dalam hal mutu pelayanan. Persoalannya, pelayanan kesehatan gratis yang bertujuan menjamin kesehatan masyarakat, justru akan berdampak sebaliknya, jika tidak diimbangi dengan mutu pelayanan yang maksimal. Kebijakan yang terkesan mendadak ini, salah satu hal yang dikhawatirkan akan berdampak pada mutu pelayanan yang kurang maksimal. Mestinya, kebijakan ini harus melalui persiapan yang matang, diantaranya sosialisasi kepada pasien rutin puskesmas dan masyarakat luas terutama tentang syarat KTP/KK, persediaan obat, termasuk sistem penggantian dana dari Pemkot dan lain sebagainya.
Pelayanan kesehatan gratis yang digagas Pemkot Tegal bisa jadi sarana memanjakan warga untuk memperoleh hak layak hidup sebagaimana tercermin dalam UUD 1945. Tetapi justru akan menjadi bumerang dan menjadikan warga sakit hati jika akhirnya Pemerintah mengkhianatinya.
Seperti halnya program Askeskin dari Pemerintah Pusat khusus bagi warga miskin, diakui ataupun tidak ternyata mengurangi mutu pelayanan yang ada. Beberapa Rumah Sakit mengaku belum mendapatkan kucuran dana dari pemerintah untuk menunjang program tersebut. Akibatnya, petugas yang ada di Rumah sakit enggan melayani masyarakat yang membawa kartu Askeskin lantaran tidak adanya pendapatan yang masuk ke Rumah Sakit. Unit Transfusi Darah PMI juga terpaksa menarik biaya pengambilan darah kepada pasien meski membawa kartu Askeskin, karena PMI tidak mendapatkan dana pengganti darah dari Pemerintah untuk warga miskin, bahkan selama ini Pemerintah mempunyai hutang cukup besar kepada PMI terkait pengambilan darah oleh warga miskin.
Oleh karenanya, Pemkot harus benar-benar serius memberlakukan program ini dengan mengacu pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang disusun oleh Departemen Kesehatan melalui Keputuan Menteri Kesehatan RI Nomor 1457/Menkes/SK/X/2003 tentang SPM bidang kesehatan di Kabupaten/Kota, yang kemudian diatur teknisnya lewat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 71 Tahun 2004 tentang SPM Bidang Kesehatan Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah.
Diantaranya, pelayanan kesehatan yang diberikan Puskemas harus bisa mencakup pelayanan kuratif (pengobatan), preventif (pencegahan), promotif (peningkatan), dan rehabilitatif (pemulihan). Puskesmas tidak boleh membedakan pasien yang satu dengan yang lain, tetapi harus menggunakan sistem triage atau prioritas penyakit yang diderita pasien. Artinya, pasien yang memiliki penyakit lebih berat harus diprioritaskan dari pasien yang memiliki penyakit lebih ringan. Selain itu, tenaga medis juga harus ditambah dengan jumlah dan kapasitas yang mencukupi, karena program ini memungkinkan membludaknya jumlah pasien di Puskesmas. Sementara Puskesmas tidak akan mampu melakukan semua itu jika tidak ditunjang secara material dan sarana prasarana yang memadai dari Pemerintah Kota Tegal yang mengeluarkan kebijakan. Diharapkan Pemerintah Kota Tegal benar-benar konsekuen dengan mensuplai dana ke Puskesmas secukupnya dan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai, sehingga kebijakan ini tetap dengan pelayanan yang optimal dan masyarakat tidak merasa sakit hati dan dikhianati oleh kebijakan tersebut, Amin...
* Penulis adalah pemerhati masalah sosial
Biodata Penulis :
Nama lengkap : Ach. Chanif
Tempat tanggal lahir : Tegal, 22 Juli 1979
Alamat lengkap : Jln. Projosumarto II No. 8 Kajen – Talang – Tegal 52193
Telp. (0283) 442155, 3359985, HP. 085647250026
Pekerjaan : Karyawan Swasta (Staff Administrasi)
Perusahaan/Instansi : SMA NU 01 Wahid Hasyim Talang
Pengalaman Organisasi :
1. Sekretaris PR. IPNU Kajen – Talang
2. Wakil Sekretaris PAC. IPNU Kec. Talang
3. Wakil Ketua PAC IPNU Kec. Talang
4. Departemen Pengkaderan PC. IPNU Kab. Tegal
5. Wakil Sekretaris PC. Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Kab. Tegal
Hormat kami,
Ach. Chanif
Oleh : Ach. Chanif Shofwan*
Seorang Pemuda bernama Jablud mengalami stress berat gara-gara diputus tunangannya yang bernama Nia, ditambah kakak Nia memiliki hutang cukup besar (untuk ukuran Jablud) kepadanya dan sangat sulit ditagih, padahal uang itu akan digunakan Jablud untuk mengembalikan hutangnya kepada orang lain. Praktis Jablud menjadi orang yang seperti kehilangan kendali. Baginya, hidup seolah sudah tidak mempunyai arti apa-apa lagi. Aktifitas yang selama ini menjadi pekerjaannya, kini tidak terurus, bahkan bisnis yang baru mulai dirintisnya pun menjadi berantakan.
Jablud kini hanya bisa menyendiri dan merenung serta melakukan aktifitas yang sama sekali tidak bermanfaat. Padahal, sebelumnya Jablud di mata teman sejawatnya dikenal sebagai seorang pekerja keras yang pantang menyerah. Jablud dikenal sebagai sosok yang mandiri dan tegar dalam menghadapi persoalan apapun, karena sejak kecil Jablud memang dididik orang tuanya menjadi orang yang tidak mudah bergantung pada orang lain. Jablud harus rela bekerja setengah hari saat masih duduk di bangku SMA guna meringankan biaya sekolah. Dan setelah lulus, Jablud harus banting tulang untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari, sampai harus pulang malam setiap hari. Kini setelah usahanya mendapatkan hasil yang cukup, menjadi berantakan lantaran masalah percintaan yang dihadapinya. Setiap kali teman atau saudaranya menanyakan pernikahannya, jantung Jablud langsung bergetar hebat dan merasa seperti ditikam.
Jablud merasa menjadi orang yang tidak memiliki arti hidup lagi sejak diputus Nia yang sudah menentukan tanggal pernikahan. Masalahnya karena Nia sudah memberikan kebahagiaan yang luar biasa dan menjanjikan kebahagiaan lahir batin ketika sudah hidup dalam satu atap nanti. Bahkan Nia rela memberikan semua keinginan Jablud yang selama ini tidak pernah didapatkannya dari orang lain. Sehingga Jablud pun rela memberikan semua yang diinginkan Nia. Kontan saja Jablud merasa sangat terpukul dan merasa terinjak-injak harga dirinya ketika menyaksikan secara langsung Nia selingkuh dengan mantan pacarnya. Apalagi Nia terang-terangan minta kembali kepada mantannya. Padahal pada hari itu, Nia janji akan datang ke rumah keluarga Jablud untuk bersilaturrahmi. Selang beberapa lama kemudian, Nia mengembalikan pertunangannya yang diwakili orang tuanya. Sejak saat itu, Jablud berubah drastis menjadi orang yang sangat lemah dan tidak memiliki daya apa-apa. Di mata teman-temannya, selama ini Jablud dikenal sebagai orang yang periang dan cerdas. Tapi kini semua hilang bagai ditelan bumi.
Persoalan ini juga diperparah ulah kakak Nia yang menggelapkan uang Jablud, dan sampai sekarang tidak juga mengembalikan. Padahal uang tersebut merupakan uang milik relasi bisnis Jablud yang baru dijalinnya. Kontan saja Jablud kehilangan kepercayaan dari relasi bisnisnya, yang berarti kehilangan asset bisnisnya yang berharga, lantaran selama ini Jablud menjalankan usahanya dengan modal kepercayaan. Kini, Jablud harus kehilangan Nia sebagai calon istri yang sangat dicintainya, dan pekerjaan yang menjadi tumpuan masa depannya.
Sebuah pengalaman hidup diatas merupakan sebuah ilustrasi yang menggambarkan bahwa seseorang akan merasa sangat terpukul dan sakit hati ketika orang yang selama ini memanjakannya, berubah 180 derajat alias mengkhianatinya. Hal ini juga akan dialami masyarakat yang dimanja oleh pemerintah, jika akhirnya sang pemerintah mengkhianatinya. Lebih menyakitkan daripada sejak awal tidak terlalu memanjakannya.
Sebagaimana program Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin yang merupakan pengalihan subsidi BBM. Program ini menyisakan persoalan yang kompleks. Di beberapa daerah, program ini menimbulkan percekcokan, pertikaian sampai pembunuhan. Tidak sedikit rumah Ketua RT/RW sampai Kepala Desa yang hancur oleh masyarakat yang mengaku miskin tetapi tidak mendapatkan dana BLT. Mereka menganggap Ketua RT/RW atau Kepala Desa sengaja tidak memasukkan namanya ke daftar warga penerima BLT. Sementara Pemerintah pusat yang mengeluarkan kebijakan ini tidak melakukan upaya preventif sebelumnya dan upaya rehabilitatif terhadap kebijakan tersebut. Karena barangkali Pemerintah tidak merasakan imbas dari kebijakannya. Padahal, kebijakan tersebut justru merupakan pembodohan terhadap masyarakat, karena tidak melatih masyarakat untuk berkreasi dalam berusaha.
Program Kesehatan Gratis Pemkot Tegal
Baru-baru ini, Pemerintah Kota Tegal membuat kebijakan yang dinilai sebagai langkah pemihakan kepada rakyat kecil, yaitu pelayanan kesehatan gratis di 8 Puskesmas dan 21 Puskesmas Pembantu (Pustu) khusus untuk warga Kota Tegal, dengan menunjukkan KTP dan KK asli. Jika tidak memiliki keduanya, bisa membawa surat keterangan sebagai warga Kota Tegal yang dikeluarkan Kelurahan. Langkah ini juga dinilai sebagai upaya Pemerintah memanjakan rakyatnya.
Kebijakan ini spontan menaikkan jumlah pengunjung di Puskesmas, terutama masyarakat yang selama ini hidup pas-pasan dan mendambakan hidup sehat tapi terhambat gara-gara tidak memiliki dana yang cukup untuk berobat. Dengan melonjaknya jumlah pasien di Puskesmas, petugas harus benar-benar siap dalam segala hal, baik sistem, SDM maupun sarana dan prasarana yang memadai. Kenyataannya, setelah kebijakan ini dikeluarkan, jusru dikeluhkan pegawai Puskesmas. Karena program ini terkesan mendadak. “Terus terang saja kami keteteran melaksanakan kebijakan ini. Awalnya, Dinkes Kota Tegal akan menerapkan pada pertengahan tahun 2008, tapi ternyata diajukan menjadi awal maret. Kami sebagai pelaksana di Puskesmas harus bergerak cepat mengurus segala keperluan,” kata Plt Kepala Puskesmas Tegal Timur II Kota Tegal Dr. Asti Sintawati baru-baru ini (NP, Kamis 5 maret 2008).
Keluhan pegawai Puskesmas tersebut bisa menjadi indikasi ketidakseriusan Pemkot dalam program ini, terutama dalam hal mutu pelayanan. Persoalannya, pelayanan kesehatan gratis yang bertujuan menjamin kesehatan masyarakat, justru akan berdampak sebaliknya, jika tidak diimbangi dengan mutu pelayanan yang maksimal. Kebijakan yang terkesan mendadak ini, salah satu hal yang dikhawatirkan akan berdampak pada mutu pelayanan yang kurang maksimal. Mestinya, kebijakan ini harus melalui persiapan yang matang, diantaranya sosialisasi kepada pasien rutin puskesmas dan masyarakat luas terutama tentang syarat KTP/KK, persediaan obat, termasuk sistem penggantian dana dari Pemkot dan lain sebagainya.
Pelayanan kesehatan gratis yang digagas Pemkot Tegal bisa jadi sarana memanjakan warga untuk memperoleh hak layak hidup sebagaimana tercermin dalam UUD 1945. Tetapi justru akan menjadi bumerang dan menjadikan warga sakit hati jika akhirnya Pemerintah mengkhianatinya.
Seperti halnya program Askeskin dari Pemerintah Pusat khusus bagi warga miskin, diakui ataupun tidak ternyata mengurangi mutu pelayanan yang ada. Beberapa Rumah Sakit mengaku belum mendapatkan kucuran dana dari pemerintah untuk menunjang program tersebut. Akibatnya, petugas yang ada di Rumah sakit enggan melayani masyarakat yang membawa kartu Askeskin lantaran tidak adanya pendapatan yang masuk ke Rumah Sakit. Unit Transfusi Darah PMI juga terpaksa menarik biaya pengambilan darah kepada pasien meski membawa kartu Askeskin, karena PMI tidak mendapatkan dana pengganti darah dari Pemerintah untuk warga miskin, bahkan selama ini Pemerintah mempunyai hutang cukup besar kepada PMI terkait pengambilan darah oleh warga miskin.
Oleh karenanya, Pemkot harus benar-benar serius memberlakukan program ini dengan mengacu pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang disusun oleh Departemen Kesehatan melalui Keputuan Menteri Kesehatan RI Nomor 1457/Menkes/SK/X/2003 tentang SPM bidang kesehatan di Kabupaten/Kota, yang kemudian diatur teknisnya lewat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 71 Tahun 2004 tentang SPM Bidang Kesehatan Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah.
Diantaranya, pelayanan kesehatan yang diberikan Puskemas harus bisa mencakup pelayanan kuratif (pengobatan), preventif (pencegahan), promotif (peningkatan), dan rehabilitatif (pemulihan). Puskesmas tidak boleh membedakan pasien yang satu dengan yang lain, tetapi harus menggunakan sistem triage atau prioritas penyakit yang diderita pasien. Artinya, pasien yang memiliki penyakit lebih berat harus diprioritaskan dari pasien yang memiliki penyakit lebih ringan. Selain itu, tenaga medis juga harus ditambah dengan jumlah dan kapasitas yang mencukupi, karena program ini memungkinkan membludaknya jumlah pasien di Puskesmas. Sementara Puskesmas tidak akan mampu melakukan semua itu jika tidak ditunjang secara material dan sarana prasarana yang memadai dari Pemerintah Kota Tegal yang mengeluarkan kebijakan. Diharapkan Pemerintah Kota Tegal benar-benar konsekuen dengan mensuplai dana ke Puskesmas secukupnya dan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai, sehingga kebijakan ini tetap dengan pelayanan yang optimal dan masyarakat tidak merasa sakit hati dan dikhianati oleh kebijakan tersebut, Amin...
* Penulis adalah pemerhati masalah sosial
Biodata Penulis :
Nama lengkap : Ach. Chanif
Tempat tanggal lahir : Tegal, 22 Juli 1979
Alamat lengkap : Jln. Projosumarto II No. 8 Kajen – Talang – Tegal 52193
Telp. (0283) 442155, 3359985, HP. 085647250026
Pekerjaan : Karyawan Swasta (Staff Administrasi)
Perusahaan/Instansi : SMA NU 01 Wahid Hasyim Talang
Pengalaman Organisasi :
1. Sekretaris PR. IPNU Kajen – Talang
2. Wakil Sekretaris PAC. IPNU Kec. Talang
3. Wakil Ketua PAC IPNU Kec. Talang
4. Departemen Pengkaderan PC. IPNU Kab. Tegal
5. Wakil Sekretaris PC. Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Kab. Tegal
Hormat kami,
Ach. Chanif


