Manusia terkadang terlihat lebih over dari makhluk apapun. Kalimat ini mungkin terlalu ekstrim, tapi itulah kenyataan yang ada. Boleh terima atau tidak, yang pasti semua bisa kita buktikan.
Ada sebuah cerita seorang Kepala Desa -sebut saja namanya Bokir. Beliau dikenal oleh warganya sebagai sosok pemimpin yang sangat merakyat. Gaya bicaranya yang suka ceplas-ceplos dan humoris, serta penampilannya yang tidak seperti priyayi, dan seringnya memberikan bantuan kepada warganya, membuat sebagian besar warganya menaruh simpatik kepadanya. tak heran ketika diadakan pemilihan Kepala Desa, dan Bokir nyalon lagi, hasilnya adalah kemenangan yang cukup signifikan bagi Bokir, mengalahkan tiga calon lainnya.
Hampir di setiap RT di bawah "Kekuasaannya", Bokir pernah dan sering membagi-bagikan bantuan, baik bantuan untuk Musholla, Madrasah, maupun bantuan bagi rakyat miskin yang susah mencari makan. Jika dibandingkan dengan pendapatannya sebagai Kepala Desa, bantuan yang diberikan bokir terlalu besar. Ini jika nilai bantuan seluruhnya ditotal sangat jauh melebihi nilai total gaji yang didapatkannya sebagai pemimpin tingkat Desa yang hanya mendapatkan bengkok dan tunjangan secukupnya dari Pemkab.
Meski demikian, Rakyat tidak pernah dan tidak mau berfikir sumber bantuan itu dari mana. Bagi Rakyat Desa yang tergolong IDT, sumber bantuan dari mana itu tidaklah penting, yang terpenting baginya bisa merasakan nikmatnya bantuan dari sang Pemimpin yang dinilainya baik hati itu.
Padahal, semua bantuan yg diberikan Bokir untuk warganya itu, memang sudah dialokasikan oleh Pemkab untuknya, itupun tidak semuanya dibagi, tetapi ada sebagian yang diambil untuk dirinya sendiri. Tapi, kepintaran dan kecerdasan sang Kades dengan bahasanya yang manis, mampu menghipnotis warganya sehingga seolah bantuan itu memang uang pribadinya untuk membantu warganya.
Kayak apapun, hal ini tidak dibenarkan, namun juga sebuah kelemahan hukum yang tidak memuat pasal yang dapat menjerat perilaku demikian.Cerita diatas, merupakan sebuah deskripsi tentang perilaku manusia yang cenderung over di depan orang lain untuk menuai nilai plus. Sangat ironis jika kita faham betul bahwa seyogyanya manusia harus mampu menjadi Khalifatullah di muka bumi, yang semestinya seorang pemimpin harus bisa memberikan contoh yang baik bagi rakyatnya, bukan cenderung "Menipu" rakyatnya. Rakyat hanya akan menjadi tahu siapa Bokir sebenarnya, setelah Bokir melalui jalur hukum dinyatakan terbukti bersalah. Setelah itu, Rakyat akan mencaci habis-habisan, tidak lagi mengingat telah diberi banyak bantuan oleh Bokir. Namun seandainya Bokir mampu bersikap low profile dan apa adanya, tidak over dengan membagikan bantuan kepada rakyatnya dengan mengatasnamakan darinya, meski kurang mendapatkan penghormatan dari rakyatnya ketika masih menjabat, namun sebenarnya Allah telah mengangkat derajatnya lebih tinggi dari orang lain karena mampu menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana. Sejatinya, manusia harus mampu menjadi dirinya sendiri serta mampu menempatkan diri dalam segala urusan.
Welcome
Selamat Datang di blogmengini, sebuah blog yang akan membuat anda tertarik untuk selalu menyimak dan manikmati baik yang bersifat pengetahuan maupun artistik lainnya.
Jumat, 24 Juli 2009
Langganan:
Komentar (Atom)


